Live

M A B R U R I-B L O G : S e l a m a t. D a t a n g. D i r u m a h. K e c i l. K a m i. S e m o g a. B l o g. I n i. B a r o k a h. U n t u k. P a r a. P e m b a c a. S e m u a n y a.

Selasa, 18 Oktober 2016

ISLAM DI BARAT : Pertarungan Antara Moderasi dan Extremisme



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Islam sebagai Agama tidak datang ke dalam ruang kosong, akan tetapi Islam hadir kepada suatu masyarakat yang sudah syarat dengan keyakinan, tradisi dan praktik-praktik kehidupan. Masyarakat pada saat itu bukan tanpa ukuran moralitas tertentu, namun sebaliknya, inheren di dalam diri mereka standar nilai dan morallitas. Namun demikian, moralitas dan standar nilai tersebut, pada beberapa tataran dianggap telah mengalami penyimpangan dan perlu diluruskan oleh moralitas baru. Dalam konteks inilah Islam hadir untuk memberikan koreksi dan perbaikan terhadap nilai-nilai moralitas mereka.[1]
Pada sisi lain, sebagai akidah dan Syari’at, Islam dilengkapi dengan aturan-aturan yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Sebagai sumber utama, Al-Quran sudah menyatakan bahwa agama ini sudah sempurna. Hal itu sebagaimana firman Allah :
اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا[2]
Pada perkembangannya, dalam memahami Islam yang tercermin dalam teks-teks qauly (Al-Quran & Hadits)  serta memahami perintah Allah dan Rasul-Nya, umat Islam berbeda pendapat. Ada yang menyikapinya dengan sikap yang keterlaluan (Ekstrem/Ghuluw) –sebagai representasi dari hamba yang ingin dianggap sangat bertakwa– dan ada yang mengentengkan serta menanggapi dan memahaminya dengan standar-standar tertentu yang sudah ditetapkan oleh Syari’at (I’tidal / Ausath).
Dalam mengartikan Jihad misalnya, digunakan oleh kaum ekstremis untuk mengembangkan “teologi kebencian” dan intoleransi demi mengesahkan perbuatan yang dilakukan melawan orang kafir. Seperti jajak penapat yang dilakukan oleh Gallup, di Negara-negara Arab dan Negara Muslim. Ada yang mengartikan bahwa Jihad adalah Keajiban kepada Allah, Tugas suci, berjuang mencapai tujuan mulia, tekad untuk bekerja keras. Sementara ada juga yang mengartikan sebagai ”mengorbankan nyawa untuk kepentingan Islam/Allah” atau “peranga melawan Musuh[3]. Dan bahkan ada yang menganggap Jihad sebagai Rukun ke enam.
Sesungguhnya fenomina ekstremisme tidak hanya  terjadi dalam Agama Islam saja.  Dalam sejarah berderet nama gerakan ekstrem yang pernah timbul dan tenggelam. Dalam agama Kristen misalnya, adanya dua kubu Katolik (ortodok) dan protestan, menunjukkan adanya perbedaan pendapat dan perilaku dalam memahami dan mengaktualisasikan Agama.
Memang fenomena ekstremisme dalam agama-agama masih menjadi api dalam sekam yang setiap saat meluap menjadi kobaran api konflik yang tak terkendali. Begitulah dalam sejarah agama-agama, konflik akibat kecurigaan satu kelompok agama terhadap lainnya, diakibatkan fanatisme yang berlebihan dari penganut agam bersangkutan. Hal ini ditambah dengan perilaku elite politik yang kerap menjadikan isu agama sebagai isu sensitive.
Dalam sejarah perkembangan Islam, kedua kelompok ini dianggap sebagai dua buah kutub yang selalu berseberangan. Salah satu isu perbedaan tersebut adalah tentang Negara dan Agama. Yang satu menginginkan bagaimana Negara bisa menjadi representasi Agama, dan yang lain berpendapat bahwa Negara cukup menjadi pelindung dan menjamin terhadap hidup dan berkembangnya agama (Islam). Pendapat yang pertama merepresentasikan kelompok Ekstremis, sedangkan pendapat ke dua merupakan representasi dari kelompok yang moderat.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang fenomena Ekstremisme pada satu sisi dan Moderasi pada sisi lain yang merupakan salah satu khazanah dalam hidup dan berkembangnya Agama Islam terutama di dunia Barat. Bagaimana pengertian dan batasan-batasan dari kedua aliran/pemahaman tersebut. Juga akan dibahasa beberapa persamaan dan perbedaan dari keduanya menyangkut ideologi dan pemahaman keagamaan. Dan terkhir akan dibahas tentang perkembangan Islam di Barat (Amerika dan beberapa Negara Eropa) dalam bingkai kedua “aliran” tersebut.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Ektrimisme dalam Islam dan apa ciri-cirinya?
2.      Apa pengertian Islam Moderat dan bagaiman ciri-cirinya?
3.       Bagaimana perkembangan Islam di Barat dalam konteks kedua aliran tersebut?

C.  Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan ini adalah :
1.      Untuk Mendeskripsikan tentang pengertian ektremisme dalam Islam serta ciri-cirinya
2.      Untuk mendeskripsikan pengertian Islam Moderat, serta ciri-cirinya
3.       Untuk mendeskripsikan perkembangan Islam di Barat dalam konteks kedua aliran tersebut.













BAB II
PEMBAHASAN
Pada dekade terakhir, Islam mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Pada tahun 2011, mosalnya dari jumlah penduduk dunia yang tumbuh sebesar 137 % dalam satu dekade terakhir, Kristen tumbuh sebanyak hanya 46%, sebaliknya,  Islam tumbuh sebanyak 5 kali lipatnya : 235%. (The Almanac Book of Facts, 2011).  Bila tren pertumbuhan ini terus berlangsung, maka  diperkirakan pada tahun 2030, 1 dari 3 penduduk dunia adalah orang Islam[4]. dan bahkan di Negara-negara sekuler khususnya di Barat, Agama Islam juga mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan.
Perkembangan Islam di Eropa yang sangat cepat ini disebabkan oleh dua faktor penting. Pertama, oleh tingkat kelahiran (fertility rate) yang tinggi di negara-negara Barat dengan mayoritas penduduk Muslim Kedua, oleh jumlah mualaf (orang-orang yang pindah dari agama lain ke agama Islam) yang juga tinggi, terutama di Amerika, Eropa dan Australia dalam 20 tahun terakhir (The Almanac Book of Facts, 2011) [5]. 
Sebuah studi oleh Faith Matters (2011) di Inggris, diketahui bahwa dalam 10 tahun terakhir, diperkirakan jumlah orang Inggris yang pindah dari agama lain (Kristen) menjadi pemeluk agama Islam adalah sebanyak 5.000 orang setiap tahun[6].
Disamping itu dalam hal pemahaman terhadap Islam, kaum muslimin dapat dibedakan dalam dua kategori aliran (pemahaman); 1) dikenal dengan paham Ekstrem (Ghulul), 2) paham Moderat (I’tidal/Ausath).
Di era modern di tengah kemajuan sain dan pekikan slogan-slogan kebebasan, dunia masih menyaksikan kehadiran kelompok-kelompok radikal dan ekstrim, di mana mereka mengancam ideologi dan keamanan masyarakat. Sebagai contoh, Zionisme sudah lebih dari satu dekade muncul sebagai bid’ah dalam agama Yahudi dan mengusung pemikiran sesat dan fanatik. Strategi kaum Zionis secara terang-terangan dibangun atas landasan teror dan kekerasan. Dengan menggunakan cara yang tidak manusiawi ini, Zionis sejauh ini telah membantai jutaan warga Palestina atau mengusir mereka.
Banyak sekali gerakan-gerakan yang dipicu oleh pemahaman yang ekstren terhadap agama. Contoh terkahir dalam agama Islam adalah munculnya kelompok ISIS. Terlepas dari adanya faktor politik atau apapun yang melatar belakanginya, bahwa gerakan ini sangat membahayakan baik di internal umat Islam maupun yang lain.

A.       Pengertian Ektrem dan Ciri-cirinya
Ekstrem secara bahasa Dalam Mu’jam bahasa Arab, sepadan dengan kata Tatharruf, dari akar kata Tatharrafa yang mempunyai arti berada di pinggir. Jadi Tatharruf bisa diartikan sebagai orang yang selalu berada di pinggir (ujung).[7]  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti, 1. Paling ujung, paling tinggi, paling keras; 2. Sangat keras, sangat teguh, fanatik. Ekstremitas adalah hal (tindakan, perbuatan) yang melewati batas[8]
Dalam Al-qur’an sikap ekstrem disebut dengan Ghuluw[9] yang berarti berlebihan dalam suatu perkara, atau bersikap ekstrim pada satu masalah dengan melampaui batas yang telah disyariatkan[10].  Dan diantara bahaya sikap ekstrem adalah bahwa hal tersebut lebih dekat kepada kebinasaan.[11]
Dalam Islam, Ekstrim merupakan salah satu corak yang digambarkan oleh pengikutnya, yang beranggapan bahwa dalam memahami agama (Islam) harus berpegang teguh kepada al-Quran dan Hadits, tidak mengenal kompromi terhadap hal-hal yang menurut mereka bertentangan dengan al-Quran dan Hadits. Sebagian orang menyebut aliran ekstremisme dengan sebutan, puritan, radikal, fanatik, Jahidis serta Islamis.[12]  Terhadap kelompok ini Khaled Abou El- Fadl lebih menggunakan istilah Puritan. Ciri yang menonjol dari kelompok ini adalah dalam hal keyakinan menganut paham absolutism dan tidak kenal kompromi.[13]
Dalam perjalanan sejarah, sikap ekstrem atau seringkali terjadi dalam pengamalan ajaran agama, seperti orang-orang Nasrani dengan keyakinan Trinitasnya. Begitu besar pengagungan mereka terhadap Nabi Isa As. sampai kemudian oleh mereka Nabi Isa dianggap sebagai Tuhan. Para penganut Syiah yang menganggap bahwa derajat Ali lebih baik dari Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dan bahkan ada yang menganggap lebih baik dari Rasulullah Saw.  Orang Khawarij yang dengan gampangnya mengkafirkan kelompok lain yang berbeda pandangan. Sikap ekstrem dalam praktik/amalan agama, contohnya berlebih-lebihan dalam masalah ibadah salat sepanjang malam tanpa tidur, puasa terus menerus, menjadikan perkara yang tidak wajib atau pun Sunah, menjadi wajib, Intinya bahwa sikap berlebihan (Ghuluw) sangat dilarang dalam agama.
Dalam hadits juga banyak disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW, sangat melarang adanya tindakan berlebihan. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad
عن ابن عبّاس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "إيّاكم والغلو في الدين، فإنما هلك من قبلكم بالغلو في الدين " روى الإمام أحمد في مسنده والنسائي وابن ماجه في سننهما [14]
Hindarilah sikap melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang (kaum) sebelum kamu telah binasa karenanya.
Larangan melampaui batas (Ghuluw) tersebut menurut Ibnu Taimiyah bersifat umum, baik dari segi akidah maupun perbuatan biasa. Dan  itulah yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Oleh sebab itu Allah berfirman:
يا أهل الكتاب لا تغلوا في دينكم ولا تقولوا على الله إلا الحق. الآية[15]
Ciri-ciri ekstrim seperti disebutkan oleh Syeh Yusuf Qardlawi ada enam, yaitu [16]:
1)      Fanatik pada suatu pendapat dengan fanatisme yang keterlaluan, sehingga tidak mau mengakui keberadaan pendapat lain
2)      Mewajibkan sesuatu atas manusia yang sesungguhnya oleh Allah SWT. tidak diwajibkan.
3)      Memperberat yang tidak pada tempatnya.
4)      Sikap kasar dan keras.
5)      Buruk sangka terhadap manusia
6)      Terjerumus ke dalam jurang pengkafiran.

Ada dua hal penting untuk diketahui dalam kaitannya dengan Ekstremisme [17]: Pertama: Bahwa kadar keberagamaan seseorang dan keberagamaan lingkungan di mana ia hidup, sangat mempengaruhi penialian orang lain, sebagai ekstrem, moderat atau menggampangkan agama. Kedua, Tidaklah adil kalau kita menuduh seorang sebagai ekstrem dalam agamanya semata-mata karena ia memilih salah satu pendapat di antara pendapat-pendapat fikih yang agak keras (ketat), seperti seorang perempuan yang menggunakan cadar, dll.

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Timbulnya Sikap Ekstrem
Dalam sebuah disertasi yang ditulis oleh Abdurrahman bin Mu’alla al Luwaihiq dari Universitas Imam Muhammd bin Su’ud, Mushkilat al-Ghuluw fi al-Din fi al-‘Ashr al-Haldir, secara terperinci mengidentifikasikan faktor-faktor yang menyebabkan sikap ekstrem/ghuluw dalam lintas sejarah umat Islam. Ia mengklasifikasikannya dalam tiga sebab utama; Pertama, sebab-sebab yang berkaitan dengan metodologi ilmiah. Kedua, sebab-sebab yang berkaitan dengan aspek kejiwaan dan pendidikan. Ketiga, sebab-sebab yang berkaitan dengan aspek sosial dan problematika dunia[18].
Menurut Syeh Yusuf Qardlawi, ada banyak faktor yang dapat menyebabkan adanya tindakan ekstrim. Faktor-faktor tersebut ada yang bersifat keagamaan, politis, ekonomi, sosial, psikologis dan rasional, gabungan dari semua atau sebagian faktor-faktor tersebut[19].
Yang berkaitan dengan faktor agama, misalnya lemahnya pemahaman terhadap agama, dalam arti kurang memahami teks-teks (al-qur’an & hadits), misalnya dalam memahami teks hanya dipahami secara harfiah saja.

B.       Pengertian Moderasi (Islam Moderat)
Secara bahasa, Moderat berarti 1)  selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem;  2) berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah:pandangannya cukup -- , ia mau mempertimbangkan pandangan pihak lain.[20]
Dari makna etimologi diatas dapat kita pahami bahwa moderat berada pada posisi tengah dan tidak condong kepada golongan tertentu. Moderat pula dapat diartikan bersikap lunak atau tidak terjerumus kedalam ekstrimisme yang berlebihan.
Ada beberapa sebutan terhadap kaum moderat, yaitu modernis, progresif dan reformis. Akan tetapi yang tepat menurut Khaled Abou el-Fadl yang paling tepat untuk menyebut dan untuk mendeskripsikan kelompok ini adalah istilah moderat.[21]
Al-qur’an, selalu memerintahkan umatnya (kaum muslimin) untuk menjadi orang yang moderat (berada di tengah-tengah/tidak miring ke kanan atau ke kiri.
وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا. الآية. البقرة 143
Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.[22]
Kata wasath diatas dapat di tafsirkan dengan makna baik dan adil.[23] Dan begitu juga imam Al-Qurthubi dalam kitabnya menafasirkan kata wasath dengan makna adil dan ditengah-tengah karena sebaik baiknya sesuatu itu pada pertengahannya.[24]
Karena itu, syekh yusuf qordhawi menyebutkan bahwa kata wasath dalam al-quran juga semakna dengan kata “tawazun”  yang bermakna seimbang. Kemudian kata ini dikorelasikan dengan kata syahadah, yang menunjukkan bahwa lahirnya islam adalah sebagai saksi kesesatan dua ummat terdahulu, yahudi dan nasrani. Kesesatan kaum Yahudi terletak pada  kecenderungan  mengutamakan  kebutuhan  jasmaniah belaka  dan  hanya mengedepankan persoalan dunia semata, sebaliknya umat Nasrani mengikat diri mereka hanya  pada  kepentingan-kepentingan  rohaniah secara  total.[25]
Sesungguhnya Moderat itu adalah keseimbangan antara keyakinan dan toleransi, seperti bagaimana kita mempunyai keyakinan tertentu tetapi tetap mempunyai toleransi yang seimbang terhadap keyakinan yang lain. Islam yang moderat itu adalah yang natural, ilmiah, dan siap untuk diaplikasikan dalam pergulatan hidup dan tentunya belum dimasuki interest-interest non agama.[26]
Menurut Prof. Dr. Yusuf Qardhawi, Diantara ciri dan karakteristik pemikiran ilmiah adalah “pemikiran Moderat”, baik orientasinya maupun kecenderungannya”. Pemikiran seperti itu menggambarkan sebuah pandangan yang moderat dan integral terhadap masyarakat dan kehidupan. Suatu manhaj yang mencerminkan visi moderasi umat yang moderat, yang jauh dari ekstremisme dan sikap cengeng[27].

Beberapa Persamaan dan Perbedaan Islam Ekstrem dan Moderat
Menurut khaled, ada beberapa persamaan dan perbedaan antara aliran ekstrem dan Modert. Mereka sama dalam hal Rukun Islam yang lima, Syahadat, Sholat, puasa di bulan Ramadlan, zakat dan Haji, sekalipun ada yang menambah satu sehingga jadi enam, dan walaupun tentang sholat ada yang berpendapat bukan lima waktu, tapi sewaktu-waktu hanya tiga waktu.
Disaping itu, ada beberapa perbedaan mendasar dalam hal cara pandang dan pemahaman mereka. Beberapa perbedaan tersebut antara lain adalah ; 1) tentang sifat dasar hukum dan moralitas, 2) pendekatan sejarah dan modernitas, 3) Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, 4) interaksi dengan non muslim dan konsep keselamatan, 5) Jihad, perang dan terorisme, dan 6) peran kaum perempuan.

C.       Perkembangan Islam di Barat
Ketika peradaban Islam sedang berada dalam masa-masa kemajuannnya terutama pada periode Klasik, keberadaan peradaban Barat (Eropa) justru sedang berada dalam jurang kegelapan (the dark of middle ages), bahkan di antara orang-orang Eropa ada yang sudah tidak mengenal kembali akan identitas kebudayaan dan peradabannya. Pada masa inilah terjadi transmisi dan tranformasi peradaban Islam kepada peradaban Barat, ditandai banyaknya orang-orang Eropa belajar kepada Islam. Sebaliknya ketika peradaban Eropa bergerak ke arah kebangkitan dan kemajuan terutama dari abad ke-15 sampai sekarang justru kondisi peradaban Islam yang bergerak ke arah kemunduran dan ketertinggalan. Kendatipun pada abad ke-19 M telah muncul kesadaran di kalangan masyarakat Islam untuk bangkit mengejar ketertinggalannya melalui kemunculan berbagai gerakan, aksi dan pemikiran yang berkembang di kalangan masyarakat Muslim, namun sangatlah ironis, ternyata gerakan tersebut belum menunjukkan keberhasilannnnya.[28] Dan bahkan dunia Barat, menggambarkan Islam dan kaum Muslimin sebagai sesuatu ancaman yang bisa meruntuhkan budaya barat, yang dalam bernegara menganut paham sekuler, akan menimbulkan Gejala “Eurabia”. Berbagai isu dihembuskan Negara-negara barat terhadap Islam, terlepas apakah itu hanya kepentingan segelintir elit politik atau motif yang lain. Yang jelas semua isu-isu tersebut, sangat merugikan bagi perkembangan Islam dan kaum Muslimin.
Amerika Serikat dengan berbagai kepentingannya juga memberi citra tentang Islam sebagai suatu ancaman dan mencoba menggambarkan Islam sesuai dengan perspektif budaya dan peradaban Barat. Pencitraan Islam oleh media massa Barat bahwa Islam adalah agama yang mengancam, menakutkan, teroris, ekstremis, jahidis.
Pada saat ini, Abad dimana kaum Muslimin mulai bangkit kembali, secara ekternal harus berhadapan dengan berbagai fenomena, seperti Globalisasi, Modernisasi, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, persmaan hak, sementara secara Internal umat Islam dalam menghadapi isu dan fenomena tersebut, terbelah dalam dua aliran pemahaman yaitu pemahaman yang Ekstrem dan Moderat. Dalam persepektif inilah penulis memotret perkembangan Islam di Dunia barat, Amerika dan Eropa.

1.      Islam di Amerika
Pada dasarnya, Masyarakat Amerika adalah masyarakat penganut Agama, dan pada akhir-akhir ini Agama Islam menjadi salah satu agama yang paling diminati berdampingan dengan Kristen dan Yahudi. Dan bahkan dalam beberapa tahun terakhir agama Islam melaju dengan pesat ke permukaan dan menjadi fenomena yang paling menarik untuk dicermati.[29]
Masuknya Islam ke Benua Amerika di bawa oleh para Imigran. Awal mula masuknya Islam ke benua ini, ada yang mengatakan dibawa oleh anak buah Columbus waktu menemukan benua ini, yang nota bene adalah orang Islam, dan Mayoritas pengamat memandang bahwa kaum muslimin pertama kali datang membawa Islam ke Amerika Utara pada pertengahan dan akhir abad ke 19. Dan memang pada saat inilah para imigram Muslim pertama, terutama dari timur tengah mulai datang ke Amerika Utara dengan harapan memperoleh peruntungan, kemudian pulang kembali ke tanah air mereka[30], dari Iran –terutama setelah revolusi Iran tahun 1979, dari Lebanon –setelah terjadi penyerangan oleh Israel tahun 1982[31] dan beberapa Negara timur Tengah lainnya.
Menurut Adam Lebor, tercatat paling tidak ada lima kali periode imigrasi Islam masuk ke Amerika; 1) periode pertama imigran timur Tengah datang ke Amerika terjadi pada 1875 – 1912, dari Siria, Yordania, Palestina dan Lebanon. Mayoritas imigran pada saat itu adalah Kristiani, dan sebagian kecil kaum Muslim Sunni, Syi’ah, Alawi dan Druze. 2) gelombang ke dua terjadi pada akhir perang Dunia I setelah kekaisaran Ottoman runtuh. Mayoritas imigran terdiri dari keluarga Muslim yang sudah lebih dulu migrasi ke Amerika. 3), pada tahun 1930-an hanya dukhususkan bagi kerabat orang-orang yang sudah lebih dulu tinggal di Amerika, 4) berlangsung dari tahun 1947 – 1960 dan 5) tahun 1965. Selain periode yang disebutkan di atas, juga sering terjadi imigran dari timur tengah seperti pada tahun 1979 pada saat terjadi Revolusi Iran dan Ayatullah Khomeni naik tahta.[32] dan diperkirakan dewasa ini sekitar seperlima muslim Amerika adalah beraliran paham Syi’ah (dengan berbagai macamnya).[33]
Dalam kehidupan bernegara, Amerika menganut paham sekuler, sebuah paham yang memisahkan antara agama dan Negara yang dalam konteks Amerika memisahkan antara Higemoni gereja terhadap Negara.
Untuk itu, maka dalam kehidupan social, dikenal kehidupan bebas, alkohol, hubungan bebas antara laki-laki  dan perempuan. Hal itu merupakan tantangan tersendiri bagi kaum Muslimin, yang tidak ditemukan di Negara asalnya. Menghadapi hal tersebut, kaum Muslimin baik yang puritan maupun moderat sama-sama menolak, akan tetapi terhadap pergaulan, ada yang lebih berhati-hati dengan tidak memperbolehkan anaknya untuk bergaul dengan lain jenis. Sementara di satu pihak ada yang cukup membentengi dengan pemahaman terhadap Agama, tanpa harus melarang bergaul dalam kehidupan masyarakat yang plural.
Dalam hal Emansipasi Wanita, pandangan kaum perempuan ada yang berpendapat dalam hal-hal tertentu sama dengan kaum laki-laki, misalnya bekerja di luar rumah, sementara yang lain lebih memilih diam di rumah dan mendidik serta membesarkan anak. Tentang membuka jilbab (penutup kepala) mayoritas mereka enggan dan tidak mau, sekalipun harus kehilangan pekerjaan karena tidak mau membuka kerudung.[34]
Dalam banyak artikel di jurnal-jurnal Muslim yang khusus mengajak Muslim bersatu padu, melupakan keragaman etnis, paham serta budaya dalam menghadalpi dan melawan keburukan-keburukan Amerika[35]. Sementara, sebagian lainnya kelompok yang bersedia menyesuaikan diri dengan system social di Amerika, berharap nilai-nilai Islam yang mereka tanamkan dalam diri anak-anak mereka, akan melindungi mereka dari godaan-godaan yang ada.[36]
Sekalipun Islam diidentikkan dengan isu-isu negative, baik oleh pemerintah dan didukung oleh media, namun hal itu justru membuat masyarakat ingin tahu lebih jauh tentang Islam. untuk itu Agama Islam secara kuantitas mengalami peningkatan. Ada banyak sekali orang Afrika-Amerika dan Amerika berkulit putih yang mamsuk Islam dengan berbagai sebab dan alasan; ada yang karena kawin dengan orang Muslim dan ada yang karena memang tertarik karena daya tarik dari sebuah peradaban besar. Orang-orang yang berpindah Agama ke Agama Islam seperti orang Amerika kulit putih, dalam hal keyakinan keagamaan dan berpakaian mereke cenderung Konservatif.[37]
Di dunia pendidikan, para orang tua Muslim banyak yang memilih mendidik anak-anak mereka di rumah, karena kawatir akan pengaruh negative karena pergaulan di luar, seperti narkoba, tindak kejahatan dan ajakan-ajakan untuk lebih meng-Amerika, sementara ada juga yang lebih memilih sekolah negeri, dan menyediakan waktu tambahan khusus bagi pendidikan mereka di rumah. Dan ada juga yang berpikir untuk mendirikan sekolah-sekolah Islam swasta. International of Islamic Tought (IIT) di Washington Dc. Memberikan banyak sekali kontribusi dalam program-program pendidikan bagi anak-anak Muslim. Dan pada tahun 1996, sekolah program S-2 Muslim pertama didirikan dengan nama School og Islamic and Sosial Sciences di Leesburg, Virginia.[38]   
Tragedi 11 September 2001 yang menghancurkan gedung WTC, seakan-akan menjadi titik balik bagi kehidupan kaum Muslim di Amerika. Setelah tragedy tersebut, terlepas dari apapun pemicunya, telah menjadikan Islam dan kaum Muslimin kususnya Amerika baik dalam kehidupan social maupun politik, mengalami banyak tekanan, diskriminasi. Sekadar perbandingan misalnya saja CAIR (Council on American-Islamic Relations), setiap tahun hanya menerima pengaduan 300-400 saja, maka setelah 9/11, ada 14 sampai 15 ribu kasus yang datang. Dengan kejadian tersebut Umat Islam dicap sebagai Radikal, ekstreis dan Teroris. Dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Gallup dalam hal ekstremisme, ketika diajukan pertanyaan tentang hal apa saja yang tidak disukai dari orang Islam dan dunia Muslim, maka masyarakat Amerika menjawab, “Ekstremisme/Radikalisme dan tidak terbuka terhadap gagasan-gagasan orang lain[39].  
Hari-hari penuh ketakutan memang sempat mewarnai kehidupan sehari-hari umat Islam AS, termasuk di Dearborn, Michigan. Dearborn adalah sebuah daerah dengan komunitas warga Arab yang terbesar; sekitar 250 ribu orang di AS. “Kami amat takut. Bahkan tidak pernah menyebutkan nama Usamah bin Laden di muka umum atau pun di telepon. Kami takut jika dikira sebagai pendukungnya,” tutur Intisar Alawie (16 tahun), perempuan. “Ada beberapa teman saya yang karena ketakutan maka ia melepaskan jilbabnya, lantas mereka keluar dengan menggunakan baju pendek. Tapi menurut saya itu masalah pribadi.”[40]
Hal lain yang juga merugikan Umat Islam dan Negara-negara Islam adalah, segera setelah kejadian 11 September tersebut, Amerika dengan berbagai agenda politiknya mengumumkan perang terhadap Terorisme, dan sebagai target pertama atas perang tersebut adalah Afganistan dan Irak[41].
Akan tetapi hal yang sangat tidak masuk di akal pemerintah George Bush dan tokoh-tokoh Amerika, masyarakat Amerika berbondong-bondong masuk Islam justru setelah peristiwa pemboman World Trade Center pada 11 September 2001 yang dikenal dengan 9/11 yang sangat memburukkan citra Islam itu. Pasca 9/11 adalah era pertumbuhan Islam paling cepat yang tidak pernah ada presedennya dalam sejarah Amerika. 8 juta orang Muslim yang kini ada di Amerika dan 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah pemboman itu. Pernyataan syahadat masuk Islam terus terjadi di kota-kota Amerika seperti New York, Wahington, Los Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan yang lainnya.[42]
Atas daya magnit Islam inilah, pada 19 April 2007, digelar sebuah konferensi di Middlebury College, Middlebury Vt. untuk mengantisipasi masa depan Islam di Amerika dengan tajuk “Is Islam a Trully American religion?” (Apakah Islam adalah Agama Amerika yang sebenarnya?) menampilkan Prof. Jane Smith yang banyak menulis buku-buku tentang Islam di Amerika. Konferensi itu sendiri merupakan seri kuliah tentang Immigrant and Religion in America. Dari konferensi itu, jelas tergambar bagaimana keterbukaan masyarakat Amerika menerima sebuah gelombang baru yang tak terelakkan yaitu Islam yang akan menjadi identitas dominan di negara super power itu.[43]
Dibalik perkembangan Islam di Amerika serikat, para penentu kebijakan Amerika, tampaknya ragu-ragu dalam mengambil posisi yang pasti terhadap kebangkitan Islam di Amerika Serikat dewasa ini. Keraguan tersebut berakar dari ketidakmampuan Washington dalam memprediksi dan mengukur dampak-dampak kebijakan luar negeri pada negara-negara Islam pada saat mereka memegang kekuasaan. Oleh karena itu, setidaknya ada tiga hal yang mendasari posisi Amerika terhadap Islam politik ; Pertama, Amerika tidak ingin terlihat tidak bersahabat bagi negara-negara Islam, karena hal tersebut dikhawatirkan akan memperparah sikap mereka terhadap Amerika. Kedua, keraguan secara terbuka mendukung kelompok Islam manapun yang kepentingan regional dan sekutunya. Ketiga, para pembuat kebijakan luar negeri Amerika terdapat sebentuk ketidak yakinan tentang kemungkinan terjadinya hubungan antara negara Islam dan demokrasi.[44]

1.       Islam di Eropa
Dalam ilmu social, dikenal teori fenomenologi, sebuah ilmu yang mempelajari tentang fenomena, alam manusia, dll. Maka segala fenomena yang terjadi dan berkembang di sekitar kehidupan manusia, kemudian menjadi hal yang dapat menggambarkan sesuatu.
Seperti itulah yang terjadi di Barat, khususnya eropa. Kalangan masyarakat umum di Eropa atau Barat pada umumnya, melihat Islam lebih sering dibentuk oleh peristiwa yang terjadi di dekat rumah atau tetangga dibanding dengan perkembangan negara-negara Muslim yang nun jauh di sana. Mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media masa saja atau melalui hubungan langsung dengan berbagai macam kelompok pendatang Muslim yang tinggal di negeri mereka. Sebagai contoh, kelompok pendatang Muslim Maroko di Belanda, pendatang Muslim Aljazair di Prancis, pendatang Muslim Pakistan dan India di Inggris, serta pendatang Muslim Turki di Jerman. Mereka juga mendapatkan pengetahuan tentang Islam melalui kejadian-kejadian ekstrem, seperti serangan teroris pada 11 September di Amerika Serikat atau kejadian-kejadian di tempat lain. Pengalaman dan kesan dari kejadian-kejadian tersebut sering mengarah pada negatif dibanding positif. Sering kali, bukanlah Islam yang dipahami, tetapi lebih pada perilaku Muslim yang dibiaskan sebagai gambaran Islam karena mereka bertindak 'atas nama Islam', tetapi sesungguhnya mereka sama sekali tidak mewakili mayoritas Muslim[45].
Di tahun-tahun terakhir ini, Islam telah menjadi subjek perdebatan di Eropa: serangan teroris Muslim pada target-target di Amerika Serikat, London, dan Spanyol; tekanan kepada remaja putri untuk memakai jilbab, penggalangan pemuda untuk jihad internasional; penemuan buku-buku pelarangan homoseksual di masjid-masjid tertentu; kesetaraan pria dan wanita; pembiaran terselubung kekerasan rumah tangga; dan kriminalitas yang diatasnamakan ajaran agama Islam.
Sementara, sebagai bentuk Islamofobia, banyak kejadian yang dilakukan oleh orang-orang eropa yang menyebabkan kemaharan umat Islam. Kasus Salman Rusydi di Inggris, dan Karikatur di media, yang menggambarkan Nabi Muhammad dengan bom di surbannya, di Denmark tahun 2005, semakin membuat rumitnya hubungan Islam dan Barat[46]. Apakah hal ini merupakan sebuah bentuk “perang peradaban” sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Samuel Huttington, tentang benturan peradaban, yaitu  benturan antara peradaban Barat di satu pihak, dengan peradaban timur di pihak lain, dalam hal ini Islam.
Upaya-upaya ke arah perdamaian dan hidup berdampingan terus dilakukan, seperti yang dilakukan di Belanda mislanya. Dalam mengatasi masalah pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok ekstremis terhadap sutradara film Theo van Gogh, tahun 2004, Pemerintah Belanda bersama dengan organisasi masyarakat sipil berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menerapkan kebijakan “integrasi”. Akan tetapi ada satu hal masih tetap problematis, yaitu ancaman pemisahan antara Muslim dan non-Muslim. Ancaman ini semakin dibakar oleh fundamentalis Muslim yang mengambil keuntungan dari ketidakpuasan di antara imigran generasi kedua dan ketiga yang sangat lamban berintegrasi. Para fundamentalis Muslim tidak ingin menjadi bagian dari bentuk masyarakat seperti sekarang ini, tetapi lebih menempatkan diri mereka di luar dari itu dan bahkan menolak standar demokrasi dan aturan hukum Belanda yang berlaku. Namun, beruntungnya, kelompok semacam ini hanyalah pinggiran dan kebanyakan Belanda Maroko atau Maroko Belanda dan orang dari kelompok etnis yang lain tentu menerima nilai-nilai Belanda. Namun, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa individu dan kelompok pinggiran dapat menyebabkan banyak kerusakan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan, apakah Islam dalam bentuknya seperti sekarang ini adalah selaras dengan nilai-nilai inti demokrasi dan praktik kehidupan di Belanda. Digabungkan dengan keprihatinan masalah integrasi, seperti penguasaan bahasa Belanda yang tetap rendah, pernikahan antaretnis yang rendah di mana lebih dari 70 persen pemuda Turki dan Maroko menikah dengan pasangan asli dari negara mereka, angka putus sekolah yang tinggi, dan buruknya lulusan sekolah di antara populasi Muslim, semua masalah ini telah memantik panasnya kehidupan sosial dan diskusi di parlemen[47].
Sementara itu pada sisi kepemimpinan, Muslim di Eropa, di Inggris, Prancis dan Negara-negara erop lainnya, tidak mempunyai kepemimpinan komunal Nasional yang terlembaga. Seperti halnya Muslim di Perancis dan Jerman, mereka bicara dengan banyak suara, yang melemahkan tujuan mereka dalam masalah-masalah seperti reformasi hokum penghujatan, atau penyediaan daging dan makanan halal. Tidak adanya kepemimpinan yang komunal itu disebabkan karena di Inggris dan di Negara Eropa lainnya adalah akibat perbedaan etnis, budaya dan “Teologi”. Banyak umat Islam menyuarakan perlunya pembentukan badan yang setara dengan dewan deputi Yahudi Inggris, sebuah kuasa-parlemen yang mewakili berbagai aliran dan golongan, namun sampai saat ini, komunitas Muslim gagal menyetujui sebuah kerangka.[48]
Beda di Inggris, beda di Perancis. Mayoritas muslim di kota paris adalah Imigran dari Maroko. Dalam kehidupan social, mereka (muslim) sering mendapatkan huatan dan hinaan. Orang perancis menyebut mereka dengan kotoran, binatang, yang sesungguhnya merupakan sebuah model Rasis seperti yang terjadi di Amerika. Media Perancis terus dan selalu melukiskan kaum Muslimin sebagai salah satu Radikal Islam yang ingin meruntuhkan Negara Sekuler Perancis.[49] Segala bentuk yang melambangkan Islam, seperti perempuan berjilbab, berjanggut, dll semua itu dianggal sebuah model ekstrem. Dan bahkan kasus di Bosnia, Muslim yang menggunakan nama Arab/Islam saja sudah dianggap Radikal/Ekstrem. Islamofobia di Perancis adalah sebuah propanganda Rasisma secara Halus.
Sedangkan lembaga-lembaga pendidikan yang bisa mempersatukan mereka, untuk tempat belajar anak-anak mereka, masih belum bisa terwujud. Hal itu ada beberapa alasan ; pertama) karena diantara kaum muslimin belum ada kesepahaman, seperti kasus di Inggris, akibat perbedaan budaya,  etnis, dan “teologi”. Kedua) untuk itu semua harus ada pengakuan dengan yahudi dan protestan, ketiga) Agama Islam di Perancis oleh pemerintah masih dianggap sebagai agama sekunder.[50]
Menurut Ramadan, setidaknya terdapat tiga dimensi permasalahan yang dihadapi Muslim Eropa yang terus akan menjadi batu sandungan dan permasalahan bagi aktualisasi kehidupan mereka di barat, yaitu : Culture, identity dan loyality[51].
Terkait dengan dimensi pertama, yakni Culture, Ramadan berpendapat bahwa tidak ada agama yang tanpa adanya ekspresi budaya. Namun begitu, agama tidak sama dengan budaya. Edward said, pernah berujar ; I am not Muslim, I am a Christian, but I am a Muslim by culture. Sebagai seorang Arab, tentu budaya Islam menjadi bagian dari budayanya, meski Edward bukan seorang Muslim.
Masalah Identitas juga merupakan masalah yang krusial, yang dihadapi kaum Muslimin ketika pertama kali bersinggungan dengan Wilayah baru, Eropa. Padahal sejatinya masalah identitas, menurutnya tidak perlu menjadi permasalahan. Tentang hal tersebut, Ramadhan berujar : I am a Muslim by Religion, I am European by culture, I am an Egyptian by memory, I am a Universality by principle.
Masalah ke tiga adalah masalah loyality. Harus dibedakan antara loyalitas muslim kepada sesame Muslim, karena hal itu menyangkut spiritual dan loyalitasnya kepada Negara. Loyal bukan berarti membenarkan semua yang menjadi kultur Eropa.


BAB III
KESIMPULAN
  1. Ekstremisme adalah salah satu corak yang digambarkan oleh pengikutnya, yang beranggapan bahwa dalam memahami agama (Islam) harus berpegang teguh kepada al-Quran dan Hadits, tidak mengenal kompromi terhadap hal-hal yang menurut mereka bertentangan dengan al-Quran dan Hadits.
  2. Moderasi adalah bersikap lunak atau tidak terjerumus kedalam ekstrimisme yang berlebihan dan berada pada posisi tengah dan tidak condong kepada golongan tertentu.
  3. Beberapa hal yang berbeda dan sama antara Aliran Moderat dan Ekstrem : Kesamaan dalam Rukun Islam yang lima, Syahadat, Sholat, puasa di bulan Ramadlan, zakat dan Haji. Disamping itu, ada perbedaan ; 1) tentang sifat dasar hukum dan moralitas, 2) pendekatan sejarah dan modernitas, 3) Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, 4) interaksi dengan non muslim dan konsep keselamatan, 5) Jihad, perang dan terorisme, dan 6) peran kaum perempuan.
  4. Perkembangan Islam di Barat (Amerika dan Eropa) :
a.       Islam datang dibawa oleh para Imigran Timur Tengah
b.       Adanya pikiran Islamofobia, Islam dianggap sebagai masalah baru, sebagai sesuatu yang membahayakan Negara, yang akan meruntuhkan Sekularisme.
c.       Globalisasi, westernisasi,  Demokrasi, HAM, persamaan Hak terhadap perempuan, masih merupakan isu-isu yang sering dipertentantangkan antara Barat dan Islam
d.      Adanya kelompok-kelompok ekstremis, radikal, merupakan fenomena yang semakin memperkeruh masalah hubungan antara Barat, Islam dan kaum Muslimin.
e.       Ada tiga permasalahan yang dihadapi Muslim Eropa yang terus akan menjadi batu sandungan bagi aktualisasi kehidupan mereka di barat, yaitu : Culture, identity dan loyality
f.        Integrasi merupakan salah satu jalan keluar, yang diupayakan oleh Negara-negara Eropa dalam mengatasi masalah benturan antara budaya Barat dan Timur (Islam)


DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran
Bisri, Adib, KH & Munawwir A.Fattah, KH, Kamus Al-Bisri, Pustaka Progressif, Surabaya, 1999
Hilmy, Masdar, MA & Akh. Muzakki, Dinamika Baru Studi Islam, Arloka, Surabaya, 2005
Karel A, Steen Brink, Beberapa Aspek Tentang Islam Di Indonesia Abad  Ke-19, Bulan Bintang, Jakarta, 1984
Qardhawi, Yusuf, Islam Ekstrem, Analisis & Pemecahannya, Terj. Alwi A.M., Mizan, Bandung, 1989
Asqalani, Ibnu Hajar, Fathul Bari, vol.12, Kairo: Darul Rayyan Lil Turats, 1988.
Abou El Fadl, Khaled, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, Terjemah, Helmi Mustofa, PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006
Shihab, Quraish, Membumikan Al-Quran, Mizan, Bandung, cet. XVIII, 1998,
al-ikhtilaf fi al din , Maktabah Syamilah
Abdurrahman bin Mu’alla Luwaihiq, dalam Shihabuddin Afroni, Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya 1, 1 (Januari 2016)
Tim Penyusun Kamus Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 3, Jakarta: Balai Pustaka, 2002
Jane Smith, Islam di Amerika, Terj. Siti Zuraida, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005
Alwi Shihab, dalam Pengantar Islam di Amerika, Terj. Siti Zuraida, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005,
Adam Lebor, A HAert Turned East, Pergulatan Muslim Barat antara Identitas dan Integritas, Terj. Yuliani Liputo, Mizan Bandung, 2009,
Esposito, Jhon L. & Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara; Opini Umat Islam tentang Barat, Kekerasan,HAM dan Isu-Isu Kontemporer Lainnya, Terj. Eva Y. Nukman, PT. MIzan Pustaka, Bandung, 2007
Sumanto Alqurtuby, Jihad Melawan Ekstremisme Agama
Ahmad Mustafa Al-Maragi, “Terjemah Tafsir Al-Maraghi”, 6 Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1992
http://tabloiddiplomasi.com/index.php/previous-isuue/52-maret-2008/474-islam-moderat-dalam-peta-diplomasi-global, Edisi: Maret 2008
Jalaluddin Muhammad dan jalaluddin abdurahman bin abi bakr  Tafsir jalalain  assuyuty/27/1/cetakan pertama/darl alhadist kairo mesir.
Alqurthubi.jaamiul ahkam qur’an/surat albaqoroh/269/juz
Abdurrahman bin Mu’alla Luwaihiq, dalam Shihabuddin Afroni, Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya 1, 1 Januari 2016
Hasbullah, Moeflich, Artikel, Islam di Amerika: Sebuah Keajaiban Bernama 9/1, Pikiran Rakyat, 6 Maret 2008
Ramadhan, Tariq, Western Muslim and The Future of Islma, dalam Muhammad Faisal Karim, Proses Munculnya Euro-Islam sebagai Transnational Norm di Kalangan Muslim Eropa, Jurnal Kajian Wilayah Vol. 1, no. 1, LIPI, 2010
Van Dam, Nikolaos, Artikel, Islam dalam Pandangan Barat, Republika, Kamis, 29 Oktober 2009
Yusuf Qardhawy, Dr., PrioritasGerakan Islam; Antisipasi Masa Depan Gerakan Islam, Terj. A. Najiyulloh, Al-Ishlahy Press, Jakarta, 1993
Kusdiana, Ading, Jurnal Al-Tsaqafa volume 10, No.1, Juli 2013
www.muslimpopulation.com
www.usislam.org
http://insideislam.wisc.edu
http://tabloiddiplomasi.com/index.php/previous-isuue/52-maret-2008/474-islam-moderat-dalam-peta-diplomasi-global, Edisi: Maret 2008
https://moeflich.wordpress.com/2008/03/18/islam-di-amerika-keajaiban-bernama-911/
Islam di Amerika, http:// ichlerne. wordpress. com/ islamaround the world


[1] Masdar Hilmy, MA & Akh. Muzakki, Dinamika Baru Studi Islam, Arloka, Surabaya, 2005, hal. 1
[2] Al-Quran, surat al-Maidah, ayat 3
[3] Jhon L. Esposito & Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara; Opini Umat Islam tentang Barat, Kekerasan,HAM dan Isu-Isu Kontemporer Lainnya, Terj. Eva Y. Nukman, PT. MIzan Pustaka, Bandung, 2007, Hal. 43-44
[4] www.muslimpopulation.com. 25 September 2016
[5] www.usislam.org, 27 September 2016
[6] http://insideislam.wisc.edu, 27 September 2016
[7] Adib Bisri, KH & Munawwir A.Fattah, KH, Kamus Al-Bisri, Pustaka Progressif, Surabaya, 1999
[8] Tim Penyusun Kamus Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 3, Jakarta: Balai Pustaka, 2002, hal. 292.
[9] Lihat, Dr. Yusuf Qardhawi, Islam Ekstrem, Analisis & Pemecahannya, Terj. Alwi A.M., Mizan, Bandung, 1989. hal. 17
[10] Ibnu Hajar Asqalani, Fathul Bari, vol.12, Kairo: Darul Rayyan Lil Turats, 1988.
[11] Yusuf Qardhawi, Islam......., hal. 16
[12] Khaled Abou El Fadl, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, Terjemah, Helmi Mustofa, PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006, hal. 29
[13] Lihat Khaled Abou El Fadl, Selamatkan ……..hal. 29-30
   Lihat juga Quraish Shihab,Dr. M., Membumikan Al-Quran, Mizan, Bandung, cet. XVIII, 1998, hal 217.
[14] al-ikhtilaf fi al din , Maktabah Syamilah
[15] Al-Quran, Surat Annisa’, 171
[16] Yusuf Qardhawi, Islam......., hal. 32-49
[17] Yusuf Qardhawi, Islam......., hal. 27 -30
[18] Abdurrahman bin Mu’alla Luwaihiq, dalam Shihabuddin Afroni, Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya 1, Januari 2016 hal. 70-85
[19] Yusuf Qardhawi, Islam......., hal. 52
[20] Tim Penyusun Kamus Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 3, Jakarta: Balai Pustaka, 2002
[21] Khaled Abou El Fadl, Selamatkan ........, hal. 26
[22] Al-Quran surat al-baqarah, 143.
[23] tafsir jalalain/jalaluddin Muhammad bin ahmad almahally dan jalaluddin abdurahman bin abi bakr    assuyuty/27/1/cetakan pertama/darl alhadist kairo mesir.
[24] Alqurthubi.jaamiul ahkam qur’an/surat albaqoroh/269/juz 1.
[25] Ahmad Mustafa Al-Maragi, “Terjemah Tafsir Al-Maraghi”, 6 (Semarang: PT. Karya Toha Putra
Semarang, 1992)
[26] http://tabloiddiplomasi.com/index.php/previous-isuue/52-maret-2008/474-islam-moderat-dalam-peta-diplomasi-global, Edisi: Maret 2008
[27] Yusuf Qardhawy, Dr., PrioritasGerakan Islam; AntisipasiMasaDepanGerakan Islam, Terj. A. Najiyulloh, Al-Ishlahy Press, Jakarta, 1993, hal. 131
[28] Ading Kusdiana, Jurnal Al-Tsaqafa volume 10, No.1, Juli 2013
[29] Alwi Shihab, dalam Pengantar Islam di Amerika, Terj. Siti Zuraida, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005, hal viii
[30] Jane Smith, Islam…… hal. 74
[31] Adam Lebor, A HAert Turned East, Pergulatan Muslim Barat antara Identitas dan Integritas, Terj. Yuliani Liputo, Mizan Bandung, 2009, hal. 302.
[32] Adam Lebor, A HAert Turned East, Pergulatan Muslim Barat antara Identitas dan Integritas, Terj. Yuliani Liputo, Mizan Bandung, 2009, hal. 76 - 78.
[33] Adam Lebor, A HAert ……………… hal. 90 - 95.
[34] Lihat Adam labor a hart ……. dan Smith, Islam ……..
[35] Farhad Ara, dalam Jane I Smith, Islam …………., hal. 183
[36] Jane I Smith, Islam……., hal. 183
[37] Lihat Adam labor a hart …….hal. 191.
[38] Jane I Smith, Islam……., hal. 201
[39] Jhon L. Esposito & Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara; Opini Umat Islam tentang Barat, Kekerasan,HAM dan Isu-Isu Kontemporer Lainnya, Terj. Eva Y. Nukman, PT. MIzan Pustaka, Bandung, 2007, hal.127
[41] Sumanto Alqurtuby, Jihad Melawan Ekstremisme Agama, hal.47
[42] Moeflich Hasbullah, Artikel, Islam di Amerika: Sebuah Keajaiban Bernama 9/1, Pikiran Rakyat, 6 Maret 2008
[43] Moeflich Hasbullah, Artikel, Islam di Amerika: Sebuah Keajaiban Bernama 9/1, Pikiran Rakyat, 6 Maret 2008
[44] Islam di Amerika, http://ichlerne.wordpress.com/islamaroundtheworld, 25 September 2016
[45] Nikolaos van Dam, Artikel, Islam dalam Pandangan Barat, Republika, Kamis, 29 Oktober 2009
[46] Lihat, Jhon L. Esposito & Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara; Opini Umat Islam tentang Barat, Kekerasan,HAM dan Isu-Isu Kontemporer Lainnya, Terj. Eva Y. Nukman, PT. MIzan Pustaka, Bandung, 2007
[47] Nikolaos van Dam, Artikel, Islam dalam Pandangan Barat, Republika, Kamis, 29 Oktober 2009
[48] Adam Lebor, A HAert ……………hal 171
[49] Adam Lebor, A HAert ……………hal 203
[50] Adam Lebor, A HAert ……………hal 207-208
[51] Tariq Ramadhan, Western Muslim and The Future of Islma, dalam Muhammad Faisal Karim, Proses Munculnya Euro-Islam sebagai Transnational Norm di Kalangan Muslim Eropa, Jurnal Kajian Wilayah Vol. 1, no. 1, LIPI, 2010, hal. 53-54